BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Salah satu persoalan kompleks yang
terjadi hampir di semua kota besar di dunia adalah berkembangnya perilaku yang
dinilai asocial dan bertentangan dengan norma-norma kewajaran. Semakin makmur
satu negara dan semakin taat hukum masyarakat, maka perilakunya pun memiliki
ketertiban yang sejalan dengan cita-cita pertumbuhan kota modern. Namun
faktanya, kondisi negara amatlah beragam, kota modern dibangun bukannya semakin
tertib, tetapi mengundang kaum urban untuk hijrah secara besar-besaran menuju
kota baru tersebut. Atau pula dapat terjadi di sejumlah kota besar, justru
angka kriminalitas semakin meningkat karena masyarakat semakin terasing dengan
ruang yang besar dan serba sistematis tersebut.
Tidak ada kota yang tidak mengandung
masalah di dunia ini, namun tingkat permasalahan itulah yang menjadi ukuran
“keberhasilan” program pembangunan perkotaan. Terdapat dua masalah kunci di
kota-kota besar yaitu masalah makro perkotaan dengan sistem pengelolaannya dan
masalah detil perkotaan yang menyangkut perilaku warganya dalam memelihara dan
berkegiatan di dalam kota. Justru permasalahan detil kota inilah hingga akhir
abad ke-20, yang menciptakan kota sebagai bagian permasalahan sosial yang
kompleks. Kota-kota di Indonesia tak luput dari permasalan di atas dengan
variasi permasalahan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kota-kota
lainnya di dunia, karena di samping jumlah penduduk yang beragam, juga
kepadatan kota yang kian tak terkendali.
Kepesatan perkembangan suatu kota ternyata
juga membawa dampak sosial akibat tingginya iklim kompetitif dalam kehidupan
masyarakatnya. Masyarakat cenderung terbagi menjadi 2 segmen, yaitu (1)
kelompok masyarakat yang menang dan berhasil dalam iklim kompetisi ini dan (2)
kelompok masyarakat yang kalah dan tersingkir. Dampak sosial lain yang sangat
terasa akibat iklim ini adalah pada perilaku masyarakat pada masing-masing
segmen atau antarsegmen tersebut yang cenderung individualis, tidak adanya
gotong royong, dan acuh tak acuh terhadap orang lain serta lingkungan.
Perwujudan perilaku ini bisa bisa
dilihat dari aspek fisik dan aspek sikap/tingkah laku masyarakat yang selalu
tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan konsep perilaku dan dinamika masyarakat di Perkotaan?
2. Apa
saja pola perilaku masyarakat di Perkotaan?
3. Apa
saja perilaku mayarakat yang mempengaruhi status kesehatan?
4. Bagaimana
potensi organisasi pemerintah, swasta dan kemasyarakatan (LSM) dalam upaya kesehatan
masyarakat Perkotaan?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui konsep perilaku dan dinamika masyarakat di Perkotaan.
2. Untuk
mengetahui pola perilaku masyarakat di Perkotaan.
3. Untuk
mengetahui perilaku mayarakat yang mempengaruhi status kesehatan.
4. Untuk
mengetahui potensi organisasi pemerintah, swasta dan kemasyarakatan (LSM) dalam
upaya kesehatan masyarakat Perkotaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Masyarakat
perkotaan adalah masyarakat yang kehidupannya banyak dipengaruhi oleh
perkembangan jaman seperti dari dampak globalisasi. Secara umum, masyarakat
perkotaan sosialisasinya sudah berkurang dan kepribadiannya beragam. Kurangnya
rasa sosialisasi karena masyarakat perkotaan sudah sibuk dengan kepentingannya
masing-masing, sedangkan dari kepribadiannya masyarakat perkotaan kebanyakan
sedikit stress karena banyaknya target/pencapaian yang harus dicapai dalam
jangka waktu tertentu. Pola interaksi masyarakat perkotaan lebih ke motif
ekonomi, politik, pendidikan, dan terkadang hierarki dan bersifat vertikal
serta individual. Pola solidaritas sosial masyarakat perkotaan terbentuk karena
adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat. Walaupun begitu, tidak
semua masyarakat perkotaan seperti apa yang dijelaskan di atas.
Menurut
sarjana sosiologi (Haris dan Ulman). Kota merupakan pusat pemukiman dan
pemanfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks.
Pertumbuhannya cepat dan luasnya kota-kota menunjukan keunggulan dalam
mengeksploitasi bumi. Dipihak lain, berakibat munculnya lingkungan miskin bagi
manusia.
Kepesatan
pertumbuhan kota dewasa ini menunjukkan tingkat perkembangan yang sangat
tinggi. Perkembangan kota merupakan tuntutan sekaligus jawaban dari
perkembangan penduduk maupun kegiatan masyarakat perkotaan semakin sulit
dikontrol sehingga sering menimbulkan persoalan-persoalan yang menyangkut
persoalan terhadap kota itu sendiri (fasilitas, sistem dan area), maupun
terhadap penduduk atau penghuninya.
Salah
satu persoalan yang sampai saat ini terus dirasakan adalah adanya perbedaan
kelas sosial ekonomi yang makin lama makin menyolok. Golongan yang mampu makin
berkuasa dan makin kaya sedangkan golongan miskin bertambah miskin. Semakin
besar, semakin padat dan heterogen penduduknya, semakin jelaslah ciri-ciri
tersebut.
Di
samping itu, fenomena lain pada kehidupan kota adalah adanya sifat kompetitif
yang sangat besar, dan sifat hubungan antar personal yang lebih dititikberatkan
pada pertimbangan keuntungan secara ekonomis.
Dari
kondisi diatas, perlahan-lahan akan terjadi perubahan tata nilai pada kehidupan
masyarakat yang mengacu pada fenomena-fenomena tersebut, yang selanjutnya akan
bermuara pada suatu kondisi:
1. Adanya keinginan untuk membatasi hubungan/
pergaulan, khususnya terhadap orang atau kelompok diluar lingkungan atau
kelasnya.
2. Adanya konflik kepentingan masing-masing kelompok
atau individu akibat dari pemaksaan kehendak dan salah satu kelompok atau
individu terhadap kelompok atau individu lain, yang sebenarnya berakar dari
pemikiran egosentris masing-masing kelompok atau individu tersebut tanpa
mempertimbangkan kepentingan kelompok atau individu lainnya.
Hal-hal
seperti itulah yang menjadi sebab pokok pola
perilaku kehidupan masyarakat perkotaan, yang sekaligus sebagai salah
satu ciri kehidupan kota.
·
Kehidupan Kota Dan Permasalahannya
Pengertian
kota secara sosiologis didefinisikan sebagai tempat pemukiman yang relatif
besar, berpenduduk padat dan permanen terdiri dari individu-individu yang
secara sosial heterogen. Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa dari segi
geografis, kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia
yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata
sosial-ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. Menurut
ketentuan formal seperti yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri
nomor 2 tahun 1987, disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan kota adalah pusat
permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi
yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta permukiman yang telah
memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kota.Adapun ciri-ciri khas suatu kota
sebagai berikut.
1. Ada batas-batas kota yang tegas
2. Mempunyai pasar
3. Ada pengadilan sendiri dan mempunyai
undang-undang yang khusus berlaku bagi kota itu, disamping undang-undang yang
berlaku lebih umum.
4. Terdapat berbagai bentuk perkumpulan dalam
masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat di kota itu sendiri.
5. Masyarakatnya mempunyai otonomi tertentu
dengan adanya hak mereka untuk memilih walikota dan anggota-anggota dewan kota.
Dari
ungkapan di atas bisa dibuat suatu batasan yang lebih khusus, bahwa suatu kota
merupakan :
1. Tempat pusat pemukiman dan kegiatan penduduk
2. Tempat dengan kepadatan penduduk tinggi
3. Mempunyai watak dan corak heterogen
4. Mempunyai ciri khas kehidupan kota.
5. Mempunyai batas wilayah administrasi
6. Mempunyai hak otonomi
Kota
menurut hirarkhi besarannya menurut NUDS (National Urban Development
Strategy),(1985) dapat diamati melalui jumlah penduduk yang tinggal dan
beraktivitas dikawasan tersebut, yang menurut sumber tersebut bisa dibagi dalam
5 tingkatan:
1. Kota Metropolitan, penduduk> 1.000.000
2. Kota Besar, penduduk 500.000 – 1.000.000
3. Kota Menengah, penduduk 100.000 – 500.000
4. Kota Kecil A, penduduk 50.000 – 100.000
5. Kota Kecil B, penduduk 20.000 – 50.000
Dari
pengertian-pengertian, batasan dan hirarkhi tersebut terlihat bahwa kota dengan
berbagai heterogenitasnya, menyimpan berbagi permasalahan. Pada umumnya kota
diasosiasikan dengan pengangguran, kemiskinan, polusi, kebisingan, ketegangan
mental, kriminalitas, kenakalan remaja, seksualitas dan sebagainya. Bukan hanya
dalam hal lingkungan fisik kota itu saja yang tidak menyenangkan tetapi juga dalam
lingkungan sosialnya.
Kemunduran
lingkungan kota yang juga dikenal dengan istilah “Urban Environment
Degradation” pada saat ini sudah meluas di berbagai kota di dunia, sedangkan di
beberapa kota di Indonesia sudah nampak adanya gejala yang membahayakan. Kemunduran
atau kerusakan lingkungan kota tersebut dapat dilihat dari dua aspek:
1. Dari aspek fisis, (environmental degradation
of physical nature), yaitu gangguan yang ditimbulkan dari unsur-unsur alam,
misalnya pencemaran air, udara dan seterusnya.
2. Dari aspek sosial-masyarakat (environmental
degradation of societal nature), yaitu gangguan yang ditimbulkan oleh
manusianya sendiri yang menimbulkan kehidupan yang tidak tenang, tidak nyaman
dan tidak tenteram.
Di
samping kenyataan tersebut, kehidupan kota yang selalu dinamis berkembang
dengan segala fasilitasnya yang serba gemerlapan, lengkap dan menarik serta
“menjanjikan” tetap saja menjadi suatu “pull factor” yang menarik orang
mendatangi kota. Dengan demikian orang-orang yang akan mengadu nasib di kota
harus mempunyai starategi, yaitu: bagaimana bisa memanfaatkan dan menikmati
segala fasilitas yang serba menjanjikan tersebut namun juga bisa mengatasi
tantangan dan permasalahan yang ada di dalamnya.
Hal
di atas merupakan penyebab utama terjadinya perkembangan kota adalah
berkembangnya kehidupan industri di dalamnya. Konotasi “kehidupan industri”
adalah dibutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak. Hal inilah yang banyak
memberi dan mewarnai harapan orang untuk selalu mencari kehidupan di kota,bahwa
ada satu ciri sentral dari kehidupan masyarakat industri, yaitu sumber
kekuatannya yang bersendi pada penemuan dan pemanfaatan sumber energi baru yang
diperoleh dalam jumlah terbatas, yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan
secara besar-besaran. Makna yang terkandung dari ungkapan tersebut adalah
adanya pekerjaan dalam skala besar (mass product) yang tentunya membutuhkan
tenaga kerja cukup banyak, dan adanya iklim persaingan yang cukup tinggi
·
Dua Kelompok Masyarakat Kota
Manusia
sebagai individu maupun sebagai kelompok, hidup di dalam dan bersama
lingkungannya. Dari hubungan yang erat dan bersifat timbal balik, manusia
menyesuaikan diri, memelihara serta mengelola lingkungannya. Dari hasil
hubungan yang dinamik antara manusia dengan lingkungannya tersebut timbul suatu
aktivitas yang menimbulkan beberapa perubahan yang menyangkut perubahan
terhadap wadah/lingkungannya atau terhadap manusia pelaku kegiatan tersebut.
Kehidupan
kota yang cenderung bersifat kompetitif, egosentris, hubungan atas dasar
kepentingan ekonomi, sangat mempengaruhi tata nilai di dalam kehidupan dan
hubungan sosial masyarakatnya. Tata nilai disini meliputi perilaku, sikap
hidup, pola berpikir dan budaya. Kehidupan kota yang bersifat kompetitif dengan
berlahan-lahan akan membagi kondisi masyarakat kota menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang menang dalam kompetisi
tersebut, atau juga bisa diartikan sebagai kelompok yang selalu sibuk dan
dipenuhi dengan tugas-tugas yang cukup banyak, sehingga cenderung overload di
dalam menerima rangsangan-rangsangan kehidupan kota. Kondisi tersebut akan
menimbulkan tingkah laku dan sikap tidak acuh pada hal-hal yang dianggap bukan
menjadi urusan dan tanggung jawabnya. Disamping itu konotasi kesibukan dan
tugas-tugas yang cukup banyak adalah tercukupi bahkan melimpahnya fasilitas
atau harta yang didapatkan.
2. Kelompok yang tidak memenangkan kompetisi,
termasuk di dalamnya kelompok yang merasa kelebihan waktu karena tidak ada
pekerjaan yang harus diselesaikan (cenderung underload), sehingga merasakan
kesepian dan kesendirian, merasa kurang diperhatikan dan dihargai. Kondisi
tersebut akan meninmbulkan pola perilaku dan tingkah laku agresif, vandalisme
dan kompesentif.
BAB III
PEMBAHASAN
POLA PERILAKU MASYARAKAT PERKOTAAN
A. Konsep
Perilaku dan Dinamika Masyarakat di Perkotaan
Pertumbuhan
penduduk kota di dunia melonjak cukup fenomenal. Sayangnya, kualitas lingkungan
cenderung menurun. Maka perlu diperhatikan upaya peningkatan kualitas
lingkungan kehidupan kota/kabupaten demi kehidupan lebih baik.
Kehidupan di
lingkungan perkotaan, lebih kompleks dibanding pedesaan. Beberapa faktor
penyebabnya, antara lain budaya pada penduduk yang heterogen, gaya hidup
(lifestyle) perkotaan, mata pencaharian lebih beragam dengan faktor risiko yang
lebih bervariasi, jenis bahan makanan/minuman yang diolah lebih variatif agar
menarik, penggunaan kebutuhan sehari-hari lebih instan (tidak alami)
dibandingkan pemenuhan kebutuhan masyarakat pedesaan serta tuntutan kebutuhan
media komunikasi lebih dominan.
Faktor-faktor di atas, menyebabkan munculnya
masalah perkotaan, seperti kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan,
pelayanan masyarakat kurang layak, kriminal, penggunaan bahan kimia pada
makanan/minuman, dan penggunaan obat-obat terlarang. Akibatnya, lingkungan
fisik, sosial dan budaya kabupaten/kota berada pada situasi rawan, yang bila
tidak dikendalikan, memperlemah ketahanan daya dukung daerah perkotaan.
Perilaku
masyarakat perkotaan cenderungan berupa menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang ada. Dengan globalisasi, komunikasi, informasi, dan
teknologi, masyarakat kota dimungkinkan melakukan penyimpangan yang lebih besar
dibandingkan dengan masyarakat desa. Hal ini ter adi karena setiap individu
kurang saling mengenal dan kurang adanya interaksi, sehingga mereka tidak tabu
urusan orang lain. Kontrol sosial dalam masyarakat pedesaan tidak dapat
diterapkan di masyarakat perkotaan.
Perilaku
Sehat, Menurut Becker , konsep perilaku sehat ini
merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker
menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan
kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health
attitude) dan praktik kesehatan (health practice). Hal ini berguna untuk
mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu
yang menjadi unitanalisis penelitian. Becker mengklasifikasikan
perilaku kesehatan menjadi tiga dimensi, yaitu:
1. Pengetahuan
tentang kesehatan
mencakup
apa yang diketahui olehseseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan,
seperti pengetahuan tentang penyakit
menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait atau memengaruhi
kesehatan, pengetahuan tentangfasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan
untuk menghindari kecelakaan.
2. Sikap
terhadap kesehatan adalah pendapatatau penilaian seseorang terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap
terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait
dan atau memengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan,
dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
3. Praktek
kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivita sorang dalam rangka memelihara
kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular,
tindakan terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau memengaruhi kesehatan,
tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan tindakan untuk menghindari
kecelakaan.
Semua konsep perilaku sehat diatas
kadang sulit terjadi di masyarakat perkotaan.
§ Ciri-ciri
type masyarakat Perkotaan
Ada
beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu:
-Kehidupan
keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang
kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
2 -Orang
kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada
orang lain (Individualisme).
3 - Pembagian
kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang
nyata.
4 -Kemungkinan-kemungkinan
untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
5 -Jalan
kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi
warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat
mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
6 -Perubahan-perubahan
tampak nyata dikota-kota, sebab
kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
§ Perkembangan
Masyarakat Kota
v Aspek
ekonomi, dapat dilihat dari pembangunan pasar swalayan, alat pembayaran
tidak hanya uang (dengan kartu kredit)
v Aspek
sosial, kelompok kekerabatan mulai memudar diganti kelompok berdasarkan
kepentingan yang sama, lebih terikat kontrak dan mulai meninggalkan tradisi.
v Aspek
politik, masyarakat mulai tanggap dan kritis terhadap kehidupan politik,
sehingga lebih dinamis.
v Aspek
budaya, keterbukaan terhadap dunia luar menyebabkan masyarakat kota merasa
lebih modern bila mengadaptasi budaya asing dan mulai meninggalkan budaya
tradisional.
1 1. Perkembangan
masyarakat desa menjadi masyarakat kota
Masyarakat
kota bisa terjadi karena adanya perkembangan masyarakat desa. Hal ini bisa
berlangsung secara lambat (evolusi) maupun secara cepat (revolusi). Perubahan
secara evolusi berlangsung sangat lama dan tidak direncanakan, yang terjadi
karena dorongan pemenuhan kebutuhan yang lebih kompleks. Sedangkan perubahan
secara revolusi berlangsung cepat dan bersifat mendasar. Misalnya revolusi
industri di Inggris, memberi pengaruh yang sangat besar pada perkembangan desa
untuk menjadi masyarakat kota yang berbasis IPTEK.
2 2. Bertambahnya
penduduk kota akibat urbanisasi
Urbanisasi
dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota atau proses
perubahan masyarakat desa menjadi masyarakat kota.
- Faktor
pendorong urbanisasi :
o
Sempitnya lapangan pekerjaan di desa
o
Kurangnya fasilitas pendidikan
o
Adanya keinginan untuk merubah nasib
o
Kemiskinan di desa
o
Para generasi muda yang ingin
meninggalkan sikap tradisional
F -Faktor
penarik urbanisasi :
o
Lapangan pekerjaan yang lebih berfariasi
o
Sarana prasarana yang lebih lengkap
o
Tingginya upah buruh di kota daripada di
desa
o
Kota menghimpun modal yang besar dan
terkonsentrasi
o
Kota dianggap memiliki tingkat
kebudayaan yang lebih tinggi
F -Faktor
Pendorong Dinamika Masyarakat Kota
a. Perubahan
situasi sosial, seperti pemekaran sebuah wilayah, masuknya industrialisasi
kepedesaan, dan adanya penemuan-penemuan baru.
b. Perubahan
situasi ekonomi, masyarakat perkotaan memiliki tingkat perkembangan
ekonomi yang lebih tinggi dibanding masyarakat pedesaan.
c. Perubahan
situasi Politik, pergantian elite politik menyebabkan perkembangan
kelompok-kelompok sosial masyarakat.
F -Faktor
Penghambat Dinamika Masyarakat Kota
a. Adanya
konflik antar anggota kelompok, menyebabkan keretakan dan berubahnya pola
hubungan sosial.
b. Adanya
perbedaan kepentingan, kelangsungan kelompok akan terancam, karena anggota
yang tidak sepaham akan berusaha memisahkan diri.
c. Adanya
perbedaan paham, perbedaan pahamakan mempengaruhi kelompok sosial secara
keseluruhan.
- Dampak
Positif Dinamika Masyarakat Kota
§ Tingkat
pendidikan lebih merata.
§ Komunikasi
dan informasi lebih cepat dan mudah.
§ Pembagian
kerja yang berdasarkan kemampuan yang meningkatkan efektifitas.
§ Pembangunan
dalam berbagai bidang lebih terjamin.
- Dampak
Negatif Dinamika Masyarakat Kota
§ Munculnya
sikap individualistis.
§ Memudarnya
nilai kebersamaan.
§ Munculnya
sikap kurang mempercayai pihak lain.
§ Memudarnya
perhatian terhadap budaya lokal dan budaya nasional, terutama para generasi
mudanya
B. Pola
Perilaku Masyarakat di Perkotaan
Di samping kota-kota baru yang dibangun
oleh pemrintah maupun swasta, kota-kota yang tumbuh sejak masa pemerintahan
kolonial berkembang pula amat cepat, bukan hanya dari segi fisiknya saja,
tetapi juga jumlah penduduk dan aktivitasnya. Demikian pula perilaku masyarakat
kota menjadi amat beragam karena datangnya kaum urban dari berbagai daerah
pinggiran kota, maupun daerah lain. Terdapat sejumlah perilaku khas (stereotip) yang terjadi di berbagai kota di
Indonesia, diantaranya:
1.
Perwajahan
kota yang tak tertib
Hampir diberbagai kota besar dan kecil
di Indonesia berhadapan dengan permasalahan yang sama yaitu terjadinya ‘unjuk
visual’ yang membuat kota seperti ‘tong sampah’ yang segala ada. Bangunan di
pinggir jalan selalui dipenuhi oleh iklan-iklan produk dengan bentuk yang acak,
mulai papan took, bilbor, spanduk, baliho dan tayangan-tayangan visual verbal.
Semuanya masing-masing ‘berteriak’. Dengan wujud dan dimensi yang semakin
besar. Bilbor yang tadinya ckup dua kali dua meter kini mulai terpajang dalam bentuk
delapan kali lima meter dengan tinggi sepuluh meteran. Diletakkan diperempatan
jalan strategis, kemudian di bawahnya masih terbentang spanduk dan
bilbor-bilbor kecil. Dalam posisi itu, lampu lalu lintas dan rambu lalu lintas
hilang tertelan oleh ‘hutan visual’ yang tal tertata. Demikian pula para
pedagang makanan kakilima, kini memiliki kecenderungan memanfaatkan
spanduk-spanduk bekas dengan unsur rupa tersisa, kemudian dengan penempatan
yang menyita lahan pejalan kaki, maka semakin riuhlah keadaan.
2.
Ruwetnya
sistem informasi
Kurangnya papan informasi dan
tanda-tanda penunjuk arah, menyebabkan para wisatawan dan pendatang baru amat
sulit mencari alamat yang dituju, di samping juga informasi tentang kendaraan,
nomer trayek, bahkan posisi pelaku di tengah kota. Unsur keruwetan visual yang
memiliki kesamaan di berbagai kota, menyebabkan para pengguna jalan
kebingungan. Pusat-pusat penerangan wisata, peta kota, hingga arah jalan tak
lagi memiliki makna, karena tidak direncanakan secara sistematis dan komunikatif.
Tersesat di tengah kota, terutama pendatang baru, amatlah terbiasa karena
sistem informasi dan sistem pertandaan kota belumlah jelas benar.
3.
Kemacetan
permanen
Tiadanya disiplin berlalu lintas, bahkan
dibeberapa kota padat selalui ditandai oleh kemacetan permanen yang terjadi
pada jam-jam tertentu, atau situasi tertentu. Kemacetan di satu ruas jalan
berdampak kepada kemacetan total sebagian besar kota. Hal ini menumbuhkan sikap
asocial para pemakai jalan, terutama kendaraan angkutan umum yang mengejar
target perolehan setoran. Hal itu juga terjadi dengan para pejalan kaki yang
tak lagi tertib dalam memakai jalan, sehingga di jalan tak ada lagi hukum yang
dapat ditegakkan. Biaya kemacetan tiap hari makin tinggi, dibandingkan hasil
produktif yang seharusnya diperoleh. Demikian pula halnya dengan pencemaran
udara yang diakibatkan asap kendaraan di satu lokasi telah mencapai batas yang
ditolerir.
4.
Kota
yang kotor
Perilaku kebersihan kota yang masih
rendah, ditandai oleh sebaran sampah, debu, lubang, tidak tertibnya parker dan
lalu lalang manusia di jalan-jalan padat kendaraan. Jumlah penduduk yang
terlampau padat dengan strata dan kegiatan sosial yang beraneka menciptakan
situasi kota menjadi ‘chaos’. Demikian pula pedagang kakilima, pertokoan
sporadic, papan took yang ‘berteriak’, bahu jalan yang tak beraturan, kabel
listrik dan telpon yang semrawut serta sampah yang bertebaran membangun citra
kota menjadi kumuh serta berkesan tak terawat.
5.
Pamer
‘kemewahan’
Kebiasaan ‘berteriak’ dengan bahasa
visual, melalui coretan, tulisan, hiasan lampu, keanekaan pagar, keanekaan
bentuk rumah dan sebagainya merupakan fenomena baru mereka yang berlebihan
dalam keberjasilan ekonomi. Akibatnya tumbuhlah berbagai jenis bangunan yang
amat tak beraturan dan beraneka dan juga yang disertai oleh tiadanya penegakan
peraturan izin bangunan. Demikian pula, tumbuhnya mal-mal dan supermarket yang
besar tanpa memikirkan besaran jalan dan jumlah kendaraan, sehingga di samping
kemacetan, juga tumbuhnya kecemburuan sosial sebagain masyarakat.
Terdapat tardisi baru para superkaya di
Indonesia untuk memiliki kendaraan mewah lebih dari tiga buah dengan rumah
mewah di berbagai kota. Meskipun masing-masing memiliki fungsi yang
berbeda-beda. Namun di tengah masyarakat yang berada dalam kondisi amat
memprihatinkan, hal itu merupakan pemicu tumbuhnya rasa kebencian yang
mendalam, terutama jika dilakukan oleh para pejabat negara atau anggota dean
perwakilan rakyat yang seharusnya menjadi teladan.
6.
Masyarakat
miskin yang tak terkendali
Akibat lemahnya sector hukum. Tiadanya
dinas sosial dan lembaga pengawasan kota yang efektif, memunculkan kebiasaan
tak tertib pedagang kakilima, asongan, pengemis, pengamen, penyebarang, peminta
sumbangan, hingga preman. Kota seolah menjadi satu wilayah tak bertuan, penguasaannya
tergantung kepada uang dan kekuasaan. Kondisi itulah yang membangun masyarakat
‘tersisih’ semakin membesar, tidak saja mereka yang berekonomi lemah, para
penganggur, tetapi juga mereka yang berekonomi kuat dan berkeinginan untuk
menertibkan diri.
Masyarakat tersisih ini menjadi kekuatan
besar ketika bersatu dan berupaya melawan petugas hukum yang berusaha
menertibkan keadaan. Perlindungan oleh preman, pimpinan masyarakat, lembaga
swadaya dan organisasi politik menjadikan kelompok masyarakat yang tersisih
memiliki perlindungan terhadap situasi tersebut.
7.
Mentalitas
ugal-ugalan
Kegetiran menghadapi hidup yang tak
menentu di berbagai kota di Indonesia, menyebabkan masyarakat mudah menderita
depresi dan frustasi sosial. Perilaku pengemudi, bis, truk gandengan, angkutan
kota dan angkutan tak bermesin yang menjadi raja jalanan. Bahkan banyak pula
remaja yang bermotor, pengemudi becak, pejalan kaki, mengemdarai mobil mewah
dan juga kendaraan tentara menjadi ‘hero’ di tengah jalan.
8.
Pekerjaan
tumpang tindih
Kebiasaan pemerintah daerah untuk
menunda perbaikan jalan, gorong-gorong, saluran air, tumpang tindih pekerjaan
PU, perbaikan lampu lalu lintas dan juga keurangnya pemeliharaan pohon telah
menjadi suatu hal yang lumrah. Dalam perencanaan yang lebih konseptual,
pekerjaan yang tumpang tindih itu termasuk juga wewenang setiap instansi dan
jadwal pekerjaan. Fenomena ini telah menjadi wacana pembangunan hamper di
seluruh kota di Indonesia termasuk kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan
desain dan perencanaan pembangunan. Kondisi tersebut mempengaruhi pula perilaku
sosial dalam menjalankan pelaksanaan desain di lapangan, serta kualitas
pekerjaan yang dihasilkan.
9.
Warga
merasa tak memiliki
Perilaku warga yang merasa tak memiliki
kota, dengan jalan mebuang sampah sembarangan, merusak fasilitas umum ataupun
peduli terhadap kerusakan kota. Kondisi tersebut terjadi karena banyak warga
kota luar daerah dan juga tidak konsistennya penegakan ketertiban di berbagai
tempat oleh aparat pemda sendiri, sehingga menumbuhkan apatisme sosial dan
ketakpedulian sosial. Hal itu memicu setiap warga menjadi amat sensitive dan
amat reaktif terhadap pergesekan sosial.
Pola
perilaku yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat diantaranya adalah :
a. Tradisi
terhadap Perilaku kesehatan
Banyak tradisi yang
mempengaruhi perilaku kesehatan dan status kesehatan di masyarakat pedesaan
maupun masyarakat perkotaan.
Contoh :
Tradisi merokok bagi
orang laki2 maka kebanyakan laki2 lebih banyak yang menderita penyakit paru
dibanding wanita.
b. Kebiasaan
yang merugikan status kesehatan
Banyak sekali kebiasaan
masyarakat yang merugikan baik untuk dirinya sendiri mau pun lingkungan.
Contoh :
Kebiasaan buang sampah
sembarangan sehingga sampah yang bertebaran dimana-mana membangun citra kota
menjadi kumuh serta berkesan tak terawatt.
c. Pengaruh
sikap fatalistis terhadap perilaku/status kesehatan
Sikap fatalistis arti
sikap tentang kejadian kematian dari masyarakat. Hal ini adalah sikap fatalisme
yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan,
Contoh :
Beberapa anggota
masyarakat pedesaan maupun perkotaan di kalangan kelompok yang beragama Islam
percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan,dan sakit atau mati itu adalah
takdir,sehingga masyarakat kurang berusaha untuk mencari pertolongan pengobatan
bagi anaknya yang sakit,atau menyelamatkan seseorang dari kematian. Dan juga
sangat sulit menyadarkan masyarakat untuk melakukan pengobatan disaat sakit.
d. Pengaruh
sikap ethnocentris terhadap perilaku kesehatan
Sikap ethnocentris
yaitu sikap yang memandang bahwa budaya kelompok adalah yang paling baik, jika
dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain.
Contoh :
§ Orang-orang
kota merasa bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya,dan
selalu beranggapan bahwa kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior
terhadap budaya dari masyarakat yang sedang desa.
§ Orang
kota menganggap dirinya yang paling tahu tentang kesehatan, sehingga merasa
dirinya berperilaku bersih dan sehat sedangkan masyarakat desa tidak.
e. Perasaan
bangga pada statusnya
Sikap perasaan bangga
atas perilakunya walaupun perilakunya tidak sesuai dengan konsep kesehatan. hal
tersebut berkaitan dengan sikap ethnosentrisme.
Contoh :
§ Orang
kota bangga kalau dapat makan dengan beras yang putih, makan lauk penuh dengan
lemak seakan-akan sebagai lambang kemakmuran.
§ Orang
akan bangga apabila makan Burger dibanding makan ikan kutuk/ lele.
f. Pengaruh
Norma terhadap perilaku kesehatan
Norma dalam masyarakat
pedesaan maupun perkotaan yang sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dibidang
kesehatan, karena norma yang mereka miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku
yang baik.
Contoh ;
Adanya norma bahwa
laki2 tidak boleh bersalaman dengan Perempuan yang bukan mukrimnya, sehingga
seorang wanita apabila periksa bagian tubuhnya harus dilakukan oleh dokter
wanita, sampai pada pemberian alat KB IUD, suntik harus dilakukan oleh dokter
wanita, bahkan untuk periksa wanita hamil harus oleh dokter wanita.
g. Pengaruh
unsur budaya yang diajarkan pada tingkat awal dari proses sosialisasi dalam
menciptakan perilaku kesehatan.
Pada tingkat awal
proses sosialisasi,sebaiknya seorang anak mulai diajarkan karena nantinya akan
menjadi nilai/ norma masyarakat.
Contoh :
Anak harus mulai
diajari sikat gigi , buang air besar di kakus, membuang sampah ditempat sampah,
cara makan/ berpakaian yang baik sejak
awal, dan kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan
bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut sangat mempngaruhi perilaku kesehatan
yang sangat sulit untuk diubah.
h. Pengaruh
konsekuensi dari inovasi kesahatan terhadap perilaku kesehatan
Tidak ada kehidupan sosial
masyarakat tanpa perubahan, dan sesuatu perubahan selalu dinamis artinya setiap perubahan akan diikuti perubahan
kedua, ketiga dan seterusnya. apabila seorang pendidik kesehatan ingin
melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat,maka yang harus dipikirkan
adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan,menganalisis
faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh terhadap perubahan,dan berusaha untuk
memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebutapabila ia
tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia tahu tentang proses perubahan
kebudayaan,maka ia harus dapat mengantisipasi reaksi yang muncul yang
mempengaruhi outcome dari perubahan yang
telah direncanakan.
Artinya
seorang petugas kesehatan kalau mau melakukan perubahan perilaku kesehatan
harus mampu menjadi contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada anggapan bahwa
petugas kesehatan merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih sehat, bahkan
diyakini bahwa perilaku kesehatan yang
baik adalah kepunyaan/ hanya petugas kesehatan yang benar.
D. Potensi
Organisasi Pemerintah, Swasta dan Kemasyarakatan (LSM) dalam Upaya Kesehatan
Masyarakat Perkotaan
Masalah kesehatan pada
umumnya disebabkan rendahnya status social ekonomi yang akibatkan ketidaktahuan
dan ketidakmampuan memelihara diri sendiri (self care) sehinggaapabila
berlangsung terus akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat jugaproduktivitasnya.
Pentingnya peran serta
masyarakat dalam pembangunan kesehatan telah diakui oleh semuapihak. Hasil
pengamatan, pengalaman lapangan sampai peningkatan cakupan program yang dikaji
secara sistematik, semuanya membuktikan bahwa peran serta masyarakat amat
menentukanterhadap keberhasilan, kemandirian dan keseimbangan pembangunan
kesehatan.
Besar dan beragamnya
peran serta masyarakat dapat dilihat pada beberapa fakta berikut. Darikajian
kunjungan lapangan di berbagai daerah, terungkapnya bahwa peran serta
masyarakat diwujudkan dalam bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat
(UKBM) yang jenisnyasangat banyak diantaranya:
§ POSYANDU (Pos
pelayanan terpadu)
§ DANA SEHAT
§ Pos UKK(pos upaya
kesehatan kerja)
§ SBH (Satuan karya
bakti Husada)
§ POLINDES (Pondok
Bersalin Desa)
§ POSKESTREN (pos
kesehatan pesantren)
§ LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat)
Penggunaan potensi
yang ada di lingkungan masyarakat salah satunya adalah;
§ KADER DESA
Kader Desa adalah
Tenaga sukarela yang terdidik dan terlatih dalam bidang tertentu, yangtumbuh
ditengah - tengah masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan, meningkatkan,
dan membina kesejahteraan masyarakat dengan rasa iklas tanpa pamrih dan didasari
panggilan untuk melaksanakan tugas - tugas kemanusiaan. Bertitik tolak dari
pengertian ini, maka kader desa adalah wakil dari masyarakat yang
akanmerumuskan segala hal yang menjadi kebutuhan dari masyarakat dan melakukan
usaha – usaha
untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Kader desa akan menjadi “agent of change” yang akan menggali
segi - segi positif yang ada pada norma - norma tradisional masyarakat mereka.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Masyarakat perkotaan
adalah masyarakat yang kehidupannya banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaman
seperti dari dampak globalisasi. Secara umum, masyarakat perkotaan
sosialisasinya sudah berkurang dan kepribadiannya beragam. Kurangnya rasa
sosialisasi karena masyarakat perkotaan sudah sibuk dengan kepentingannya
masing-masing, sedangkan dari kepribadiannya masyarakat perkotaan kebanyakan
sedikit stress karena banyaknya target/pencapaian yang harus dicapai dalam
jangka waktu tertentu. Pola interaksi masyarakat perkotaan lebih ke motif
ekonomi, politik, pendidikan, dan terkadang hierarki dan bersifat vertikal
serta individual. Pola solidaritas sosial masyarakat perkotaan terbentuk karena
adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat. Walaupun begitu, tidak
semua masyarakat perkotaan seperti apa yang dijelaskan di atas.
Masyarakat perkotaan
sering disebut urban community, pengertian masyarakat kota lebih ditekankan
pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan. Selain itu dapat disimpulkan bahwa :
a. Kehidupan
kota adalah sangat spesifik, spesifik dalam hal cirinya maupun permasalahan
yang ada didalamnya, sehingga dari kespesifikannya itu ternyata saat ini banyak
menimbulkan permasalahan yang menimbulkan dampak terhadap “kota” itu sendiri
sebagai wadah kegiatan, maupun terhadap “penduduk” selaku pelaku kegiatannya.
b. Secara
umum permasalahan kota yaitu permasalahan yang menyangkut fisik dan
permasalahan yang menyangkut sosial/kehidupan, kedua aspek permasalahan
tersebut saling berinteraksi sehingga sulit untuk menentukan aspek mana yang
berfungsi sebagai “pemicu” munculnya permasalahan pada aspek lainnya.
c. Perilaku
individualis merupakan ciri utama sifat kehidupan kota, perilaku tersebut
merupakan salah satu dampak permasalahan perkotaan, dengan demikian perilaku
tersebut sangat sulit untuk dihilangkan (karena permasalahan kota yang memicu
timbulnya perilaku tersebut akan terus ada dan berkembang). Perilaku
individualis ini bisa diwujudkan dalam bentuk ungkapan fisik yang berupa ruang,
bentuk, maupun tanda, namun bisa juga dalam sikap dan perilaku.
SARAN
a.
Seharusnya masyarakat perkotaan tidak
berperilaku individual.
b.
Seharusnya masyarakat perkotaan bisa
lebih bersosialisasi terhadap lingkungannya dengan menghilangkan perilaku
induvidualisme, karena setiap manusia membutuhkan orang lain.
c.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah
perlunya pengendalian perilaku masyarakat perkotaan supaya tidak menimbulkan
konflik antar individu/kelompok.
d.
Salah satu sarana pengendalian perilaku
masyarakat perkotaan adalah adanya upaya pendidikan sosial (social education) bagi para anggota masyarakat kota, yang
implikasinya adalah pada hubungan yang saling membutuhkan dan menghargai.
e.
Harus menjaga kebersihan kota agar tidak
menghilangkan nilai estetika dan agar tidak menimbulkan bibit penyakit.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
§ Abdurrochman.
1985. Perkampungan Di Perkotaan Sebagai Wujud Adaptasi Social. Jakarta:
Penerbit Departemen Pendidikan Dan Budaya.
§ B.N.
Mahbun,SH. 2009. Kota Indonesia Masa Depan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
§ Melville,
C.Branch. 1996. Perencanaan Kota Komprehensif. Yogyakarta: UGM.
§ Mustamin,
Alwi. 1992. Antropologi Perkotaan. Jakarta: CV Rajawali.
§ Sachari,
Agus. 2002. Sosisologi Desain. Bandung: Penerbit ITB.
Jurnal :
§ http://jurnalsehat.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment