Tuesday, July 7, 2015

KESEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN “POLA PERILAKU MASYARAKAT PERKOTAAN”

BAB I
PENDAHULUAN
              A .    Latar Belakang
Salah satu persoalan kompleks yang terjadi hampir di semua kota besar di dunia adalah berkembangnya perilaku yang dinilai asocial dan bertentangan dengan norma-norma kewajaran. Semakin makmur satu negara dan semakin taat hukum masyarakat, maka perilakunya pun memiliki ketertiban yang sejalan dengan cita-cita pertumbuhan kota modern. Namun faktanya, kondisi negara amatlah beragam, kota modern dibangun bukannya semakin tertib, tetapi mengundang kaum urban untuk hijrah secara besar-besaran menuju kota baru tersebut. Atau pula dapat terjadi di sejumlah kota besar, justru angka kriminalitas semakin meningkat karena masyarakat semakin terasing dengan ruang yang besar dan serba sistematis tersebut.
Tidak ada kota yang tidak mengandung masalah di dunia ini, namun tingkat permasalahan itulah yang menjadi ukuran “keberhasilan” program pembangunan perkotaan. Terdapat dua masalah kunci di kota-kota besar yaitu masalah makro perkotaan dengan sistem pengelolaannya dan masalah detil perkotaan yang menyangkut perilaku warganya dalam memelihara dan berkegiatan di dalam kota. Justru permasalahan detil kota inilah hingga akhir abad ke-20, yang menciptakan kota sebagai bagian permasalahan sosial yang kompleks. Kota-kota di Indonesia tak luput dari permasalan di atas dengan variasi permasalahan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan kota-kota lainnya di dunia, karena di samping jumlah penduduk yang beragam, juga kepadatan kota yang kian tak terkendali.
Kepesatan perkembangan suatu kota ternyata juga membawa dampak sosial akibat tingginya iklim kompetitif dalam kehidupan masyarakatnya. Masyarakat cenderung terbagi menjadi 2 segmen, yaitu (1) kelompok masyarakat yang menang dan berhasil dalam iklim kompetisi ini dan (2) kelompok masyarakat yang kalah dan tersingkir. Dampak sosial lain yang sangat terasa akibat iklim ini adalah pada perilaku masyarakat pada masing-masing segmen atau antarsegmen tersebut yang cenderung individualis, tidak adanya gotong royong, dan acuh tak acuh terhadap orang lain serta lingkungan. Perwujudan perilaku  ini bisa bisa dilihat dari aspek fisik dan aspek sikap/tingkah laku masyarakat yang selalu tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan konsep perilaku dan dinamika masyarakat di Perkotaan?
2.      Apa saja pola perilaku masyarakat di Perkotaan?
3.      Apa saja perilaku mayarakat yang mempengaruhi status kesehatan?
4.      Bagaimana potensi organisasi pemerintah, swasta dan kemasyarakatan (LSM) dalam upaya kesehatan masyarakat Perkotaan?
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui konsep perilaku dan dinamika masyarakat di Perkotaan.
2.      Untuk mengetahui pola perilaku masyarakat di Perkotaan.
3.      Untuk mengetahui perilaku mayarakat yang mempengaruhi status kesehatan.
4.      Untuk mengetahui potensi organisasi pemerintah, swasta dan kemasyarakatan (LSM) dalam upaya kesehatan masyarakat Perkotaan.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang kehidupannya banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaman seperti dari dampak globalisasi. Secara umum, masyarakat perkotaan sosialisasinya sudah berkurang dan kepribadiannya beragam. Kurangnya rasa sosialisasi karena masyarakat perkotaan sudah sibuk dengan kepentingannya masing-masing, sedangkan dari kepribadiannya masyarakat perkotaan kebanyakan sedikit stress karena banyaknya target/pencapaian yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Pola interaksi masyarakat perkotaan lebih ke motif ekonomi, politik, pendidikan, dan terkadang hierarki dan bersifat vertikal serta individual. Pola solidaritas sosial masyarakat perkotaan terbentuk karena adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat. Walaupun begitu, tidak semua masyarakat perkotaan seperti apa yang dijelaskan di atas.
Menurut sarjana sosiologi (Haris dan Ulman). Kota merupakan pusat pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya cepat dan luasnya kota-kota menunjukan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi. Dipihak lain, berakibat munculnya lingkungan miskin bagi manusia.
Kepesatan pertumbuhan kota dewasa ini menunjukkan tingkat perkembangan yang sangat tinggi. Perkembangan kota merupakan tuntutan sekaligus jawaban dari perkembangan penduduk maupun kegiatan masyarakat perkotaan semakin sulit dikontrol sehingga sering menimbulkan persoalan-persoalan yang menyangkut persoalan terhadap kota itu sendiri (fasilitas, sistem dan area), maupun terhadap penduduk atau penghuninya.
Salah satu persoalan yang sampai saat ini terus dirasakan adalah adanya perbedaan kelas sosial ekonomi yang makin lama makin menyolok. Golongan yang mampu makin berkuasa dan makin kaya sedangkan golongan miskin bertambah miskin. Semakin besar, semakin padat dan heterogen penduduknya, semakin jelaslah ciri-ciri tersebut.
Di samping itu, fenomena lain pada kehidupan kota adalah adanya sifat kompetitif yang sangat besar, dan sifat hubungan antar personal yang lebih dititikberatkan pada pertimbangan keuntungan secara ekonomis.
Dari kondisi diatas, perlahan-lahan akan terjadi perubahan tata nilai pada kehidupan masyarakat yang mengacu pada fenomena-fenomena tersebut, yang selanjutnya akan bermuara pada suatu kondisi:
1.   Adanya keinginan untuk membatasi hubungan/ pergaulan, khususnya terhadap orang atau kelompok diluar lingkungan atau kelasnya.
2.   Adanya konflik kepentingan masing-masing kelompok atau individu akibat dari pemaksaan kehendak dan salah satu kelompok atau individu terhadap kelompok atau individu lain, yang sebenarnya berakar dari pemikiran egosentris masing-masing kelompok atau individu tersebut tanpa mempertimbangkan kepentingan kelompok atau individu lainnya.
Hal-hal seperti itulah yang menjadi sebab pokok pola  perilaku kehidupan masyarakat perkotaan, yang sekaligus sebagai salah satu ciri kehidupan kota.
·         Kehidupan Kota Dan Permasalahannya
Pengertian kota secara sosiologis didefinisikan sebagai tempat pemukiman yang relatif besar, berpenduduk padat dan permanen terdiri dari individu-individu yang secara sosial heterogen. Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa dari segi geografis, kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial-ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. Menurut ketentuan formal seperti yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 tahun 1987, disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kota.Adapun ciri-ciri khas suatu kota sebagai berikut.
1.   Ada batas-batas kota yang tegas
2.   Mempunyai pasar
3.   Ada pengadilan sendiri dan mempunyai undang-undang yang khusus berlaku bagi kota itu, disamping undang-undang yang berlaku lebih umum.
4.   Terdapat berbagai bentuk perkumpulan dalam masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat di kota itu sendiri.
5.   Masyarakatnya mempunyai otonomi tertentu dengan adanya hak mereka untuk memilih walikota dan anggota-anggota dewan kota.
Dari ungkapan di atas bisa dibuat suatu batasan yang lebih khusus, bahwa suatu kota merupakan :
1.   Tempat pusat pemukiman dan kegiatan penduduk
2.   Tempat dengan kepadatan penduduk tinggi
3.   Mempunyai watak dan corak heterogen
4.   Mempunyai ciri khas kehidupan kota.
5.   Mempunyai batas wilayah administrasi
6.   Mempunyai hak otonomi
Kota menurut hirarkhi besarannya menurut NUDS (National Urban Development Strategy),(1985) dapat diamati melalui jumlah penduduk yang tinggal dan beraktivitas dikawasan tersebut, yang menurut sumber tersebut bisa dibagi dalam 5 tingkatan:
1.   Kota Metropolitan, penduduk> 1.000.000
2.   Kota Besar, penduduk 500.000 – 1.000.000
3.   Kota Menengah, penduduk 100.000 – 500.000
4.   Kota Kecil A, penduduk 50.000 – 100.000
5.   Kota Kecil B, penduduk 20.000 – 50.000
Dari pengertian-pengertian, batasan dan hirarkhi tersebut terlihat bahwa kota dengan berbagai heterogenitasnya, menyimpan berbagi permasalahan. Pada umumnya kota diasosiasikan dengan pengangguran, kemiskinan, polusi, kebisingan, ketegangan mental, kriminalitas, kenakalan remaja, seksualitas dan sebagainya. Bukan hanya dalam hal lingkungan fisik kota itu saja yang tidak menyenangkan tetapi juga dalam lingkungan sosialnya.
Kemunduran lingkungan kota yang juga dikenal dengan istilah “Urban Environment Degradation” pada saat ini sudah meluas di berbagai kota di dunia, sedangkan di beberapa kota di Indonesia sudah nampak adanya gejala yang membahayakan. Kemunduran atau kerusakan lingkungan kota tersebut dapat dilihat dari dua aspek:
1.   Dari aspek fisis, (environmental degradation of physical nature), yaitu gangguan yang ditimbulkan dari unsur-unsur alam, misalnya pencemaran air, udara dan seterusnya.
2.   Dari aspek sosial-masyarakat (environmental degradation of societal nature), yaitu gangguan yang ditimbulkan oleh manusianya sendiri yang menimbulkan kehidupan yang tidak tenang, tidak nyaman dan tidak tenteram.
Di samping kenyataan tersebut, kehidupan kota yang selalu dinamis berkembang dengan segala fasilitasnya yang serba gemerlapan, lengkap dan menarik serta “menjanjikan” tetap saja menjadi suatu “pull factor” yang menarik orang mendatangi kota. Dengan demikian orang-orang yang akan mengadu nasib di kota harus mempunyai starategi, yaitu: bagaimana bisa memanfaatkan dan menikmati segala fasilitas yang serba menjanjikan tersebut namun juga bisa mengatasi tantangan dan permasalahan yang ada di dalamnya.
Hal di atas merupakan penyebab utama terjadinya perkembangan kota adalah berkembangnya kehidupan industri di dalamnya. Konotasi “kehidupan industri” adalah dibutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak. Hal inilah yang banyak memberi dan mewarnai harapan orang untuk selalu mencari kehidupan di kota,bahwa ada satu ciri sentral dari kehidupan masyarakat industri, yaitu sumber kekuatannya yang bersendi pada penemuan dan pemanfaatan sumber energi baru yang diperoleh dalam jumlah terbatas, yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan secara besar-besaran. Makna yang terkandung dari ungkapan tersebut adalah adanya pekerjaan dalam skala besar (mass product) yang tentunya membutuhkan tenaga kerja cukup banyak, dan adanya iklim persaingan yang cukup tinggi


·         Dua Kelompok Masyarakat Kota
Manusia sebagai individu maupun sebagai kelompok, hidup di dalam dan bersama lingkungannya. Dari hubungan yang erat dan bersifat timbal balik, manusia menyesuaikan diri, memelihara serta mengelola lingkungannya. Dari hasil hubungan yang dinamik antara manusia dengan lingkungannya tersebut timbul suatu aktivitas yang menimbulkan beberapa perubahan yang menyangkut perubahan terhadap wadah/lingkungannya atau terhadap manusia pelaku kegiatan tersebut.
Kehidupan kota yang cenderung bersifat kompetitif, egosentris, hubungan atas dasar kepentingan ekonomi, sangat mempengaruhi tata nilai di dalam kehidupan dan hubungan sosial masyarakatnya. Tata nilai disini meliputi perilaku, sikap hidup, pola berpikir dan budaya. Kehidupan kota yang bersifat kompetitif dengan berlahan-lahan akan membagi kondisi masyarakat kota menjadi 2 kelompok, yaitu:
1.   Kelompok yang menang dalam kompetisi tersebut, atau juga bisa diartikan sebagai kelompok yang selalu sibuk dan dipenuhi dengan tugas-tugas yang cukup banyak, sehingga cenderung overload di dalam menerima rangsangan-rangsangan kehidupan kota. Kondisi tersebut akan menimbulkan tingkah laku dan sikap tidak acuh pada hal-hal yang dianggap bukan menjadi urusan dan tanggung jawabnya. Disamping itu konotasi kesibukan dan tugas-tugas yang cukup banyak adalah tercukupi bahkan melimpahnya fasilitas atau harta yang didapatkan.
2.   Kelompok yang tidak memenangkan kompetisi, termasuk di dalamnya kelompok yang merasa kelebihan waktu karena tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan (cenderung underload), sehingga merasakan kesepian dan kesendirian, merasa kurang diperhatikan dan dihargai. Kondisi tersebut akan meninmbulkan pola perilaku dan tingkah laku agresif, vandalisme dan kompesentif.




BAB III
PEMBAHASAN
POLA PERILAKU MASYARAKAT PERKOTAAN

         A.  Konsep Perilaku dan Dinamika Masyarakat di Perkotaan
Pertumbuhan penduduk kota di dunia melonjak cukup fenomenal. Sayangnya, kualitas lingkungan cenderung menurun. Maka perlu diperhatikan upaya peningkatan kualitas lingkungan kehidupan kota/kabupaten demi kehidupan lebih baik.
Kehidupan di lingkungan perkotaan, lebih kompleks dibanding pedesaan. Beberapa faktor penyebabnya, antara lain budaya pada penduduk yang heterogen, gaya hidup (lifestyle) perkotaan, mata pencaharian lebih beragam dengan faktor risiko yang lebih bervariasi, jenis bahan makanan/minuman yang diolah lebih variatif agar menarik, penggunaan kebutuhan sehari-hari lebih instan (tidak alami) dibandingkan pemenuhan kebutuhan masyarakat pedesaan serta tuntutan kebutuhan media komunikasi lebih dominan.
 Faktor-faktor di atas, menyebabkan munculnya masalah perkotaan, seperti kepadatan lalu lintas, pencemaran udara, perumahan, pelayanan masyarakat kurang layak, kriminal, penggunaan bahan kimia pada makanan/minuman, dan penggunaan obat-obat terlarang. Akibatnya, lingkungan fisik, sosial dan budaya kabupaten/kota berada pada situasi rawan, yang bila tidak dikendalikan, memperlemah ketahanan daya dukung daerah perkotaan.
Perilaku masyarakat perkotaan cenderungan berupa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang ada. Dengan globalisasi, komunikasi, informasi, dan teknologi, masyarakat kota dimungkinkan melakukan penyimpangan yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat desa. Hal ini ter adi karena setiap individu kurang saling mengenal dan kurang adanya interaksi, sehingga mereka tidak tabu urusan orang lain. Kontrol sosial dalam masyarakat pedesaan tidak dapat diterapkan di masyarakat perkotaan.
Perilaku Sehat, Menurut  Becker , konsep perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude) dan praktik kesehatan (health practice). Hal ini berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi unitanalisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi tiga dimensi, yaitu:
    1. Pengetahuan tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui olehseseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait atau memengaruhi kesehatan, pengetahuan tentangfasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
2. Sikap terhadap kesehatan adalah pendapatatau penilaian seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau memengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
    3. Praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivita sorang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular, tindakan terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau memengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Semua konsep perilaku sehat diatas kadang sulit terjadi di masyarakat perkotaan.

§  Ciri-ciri type masyarakat Perkotaan
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu:
   -Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
2 -Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
3 - Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4 -Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
5 -Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
6 -Perubahan-perubahan tampak nyata  dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

§  Perkembangan Masyarakat Kota

v  Aspek ekonomi, dapat dilihat dari pembangunan pasar swalayan, alat pembayaran tidak hanya uang (dengan kartu kredit)
v  Aspek sosial, kelompok kekerabatan mulai memudar diganti kelompok berdasarkan kepentingan yang sama, lebih terikat kontrak dan mulai meninggalkan tradisi.
v  Aspek politik, masyarakat mulai tanggap dan kritis terhadap kehidupan politik, sehingga lebih dinamis.
v  Aspek budaya, keterbukaan terhadap dunia luar menyebabkan masyarakat kota merasa lebih modern bila mengadaptasi budaya asing dan mulai meninggalkan budaya tradisional.

1    1. Perkembangan masyarakat desa menjadi masyarakat kota
Masyarakat kota bisa terjadi karena adanya perkembangan masyarakat desa. Hal ini bisa berlangsung secara lambat (evolusi) maupun secara cepat (revolusi). Perubahan secara evolusi berlangsung sangat lama dan tidak direncanakan, yang terjadi karena dorongan pemenuhan kebutuhan yang lebih kompleks. Sedangkan perubahan secara revolusi berlangsung cepat dan bersifat mendasar. Misalnya revolusi industri di Inggris, memberi pengaruh yang sangat besar pada perkembangan desa untuk menjadi masyarakat kota yang berbasis IPTEK.
2    2. Bertambahnya penduduk kota akibat urbanisasi
Urbanisasi dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota atau proses perubahan masyarakat desa menjadi masyarakat kota.
      - Faktor pendorong urbanisasi :
o   Sempitnya lapangan pekerjaan di desa
o   Kurangnya fasilitas pendidikan
o   Adanya keinginan untuk merubah nasib
o   Kemiskinan di desa
o   Para generasi muda yang ingin meninggalkan sikap tradisional
F   -Faktor penarik urbanisasi :
o   Lapangan pekerjaan yang lebih berfariasi
o   Sarana prasarana yang lebih lengkap
o   Tingginya upah buruh di kota daripada di desa
o   Kota menghimpun modal yang besar dan terkonsentrasi
o   Kota dianggap memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi
F  -Faktor Pendorong Dinamika Masyarakat Kota
a.       Perubahan situasi sosial, seperti pemekaran sebuah wilayah, masuknya industrialisasi kepedesaan, dan adanya penemuan-penemuan baru. 
b.      Perubahan situasi ekonomi, masyarakat perkotaan memiliki tingkat perkembangan ekonomi yang lebih tinggi dibanding masyarakat pedesaan.
c.       Perubahan situasi Politik, pergantian elite politik menyebabkan perkembangan kelompok-kelompok sosial masyarakat. 
F -Faktor Penghambat Dinamika Masyarakat Kota
a.       Adanya konflik antar anggota kelompok, menyebabkan keretakan dan berubahnya pola hubungan sosial.
b.      Adanya perbedaan kepentingan, kelangsungan kelompok akan terancam, karena anggota yang tidak sepaham akan berusaha memisahkan diri. 
c.       Adanya perbedaan paham, perbedaan pahamakan mempengaruhi kelompok sosial secara keseluruhan.
    - Dampak Positif Dinamika Masyarakat Kota
§  Tingkat pendidikan lebih merata.
§  Komunikasi dan informasi lebih cepat dan mudah.
§  Pembagian kerja yang berdasarkan kemampuan yang meningkatkan efektifitas.
§  Pembangunan dalam berbagai bidang lebih terjamin.
     - Dampak Negatif Dinamika Masyarakat Kota
§  Munculnya sikap individualistis.
§  Memudarnya nilai kebersamaan.
§  Munculnya sikap kurang mempercayai pihak lain.
§  Memudarnya perhatian terhadap budaya lokal dan budaya nasional, terutama para generasi mudanya

              B.  Pola Perilaku Masyarakat di Perkotaan
Di samping kota-kota baru yang dibangun oleh pemrintah maupun swasta, kota-kota yang tumbuh sejak masa pemerintahan kolonial berkembang pula amat cepat, bukan hanya dari segi fisiknya saja, tetapi juga jumlah penduduk dan aktivitasnya. Demikian pula perilaku masyarakat kota menjadi amat beragam karena datangnya kaum urban dari berbagai daerah pinggiran kota, maupun daerah lain. Terdapat sejumlah perilaku khas (stereotip) yang terjadi di berbagai kota di Indonesia, diantaranya:
1.      Perwajahan kota yang tak tertib
Hampir diberbagai kota besar dan kecil di Indonesia berhadapan dengan permasalahan yang sama yaitu terjadinya ‘unjuk visual’ yang membuat kota seperti ‘tong sampah’ yang segala ada. Bangunan di pinggir jalan selalui dipenuhi oleh iklan-iklan produk dengan bentuk yang acak, mulai papan took, bilbor, spanduk, baliho dan tayangan-tayangan visual verbal. Semuanya masing-masing ‘berteriak’. Dengan wujud dan dimensi yang semakin besar. Bilbor yang tadinya ckup dua kali dua meter kini mulai terpajang dalam bentuk delapan kali lima meter dengan tinggi sepuluh meteran. Diletakkan diperempatan jalan strategis, kemudian di bawahnya masih terbentang spanduk dan bilbor-bilbor kecil. Dalam posisi itu, lampu lalu lintas dan rambu lalu lintas hilang tertelan oleh ‘hutan visual’ yang tal tertata. Demikian pula para pedagang makanan kakilima, kini memiliki kecenderungan memanfaatkan spanduk-spanduk bekas dengan unsur rupa tersisa, kemudian dengan penempatan yang menyita lahan pejalan kaki, maka semakin riuhlah keadaan.
2.      Ruwetnya sistem informasi
Kurangnya papan informasi dan tanda-tanda penunjuk arah, menyebabkan para wisatawan dan pendatang baru amat sulit mencari alamat yang dituju, di samping juga informasi tentang kendaraan, nomer trayek, bahkan posisi pelaku di tengah kota. Unsur keruwetan visual yang memiliki kesamaan di berbagai kota, menyebabkan para pengguna jalan kebingungan. Pusat-pusat penerangan wisata, peta kota, hingga arah jalan tak lagi memiliki makna, karena tidak direncanakan secara sistematis dan komunikatif. Tersesat di tengah kota, terutama pendatang baru, amatlah terbiasa karena sistem informasi dan sistem pertandaan kota belumlah jelas benar.
3.      Kemacetan permanen
Tiadanya disiplin berlalu lintas, bahkan dibeberapa kota padat selalui ditandai oleh kemacetan permanen yang terjadi pada jam-jam tertentu, atau situasi tertentu. Kemacetan di satu ruas jalan berdampak kepada kemacetan total sebagian besar kota. Hal ini menumbuhkan sikap asocial para pemakai jalan, terutama kendaraan angkutan umum yang mengejar target perolehan setoran. Hal itu juga terjadi dengan para pejalan kaki yang tak lagi tertib dalam memakai jalan, sehingga di jalan tak ada lagi hukum yang dapat ditegakkan. Biaya kemacetan tiap hari makin tinggi, dibandingkan hasil produktif yang seharusnya diperoleh. Demikian pula halnya dengan pencemaran udara yang diakibatkan asap kendaraan di satu lokasi telah mencapai batas yang ditolerir.
4.      Kota yang kotor
Perilaku kebersihan kota yang masih rendah, ditandai oleh sebaran sampah, debu, lubang, tidak tertibnya parker dan lalu lalang manusia di jalan-jalan padat kendaraan. Jumlah penduduk yang terlampau padat dengan strata dan kegiatan sosial yang beraneka menciptakan situasi kota menjadi ‘chaos’. Demikian pula pedagang kakilima, pertokoan sporadic, papan took yang ‘berteriak’, bahu jalan yang tak beraturan, kabel listrik dan telpon yang semrawut serta sampah yang bertebaran membangun citra kota menjadi kumuh serta berkesan tak terawat.
5.      Pamer ‘kemewahan’
Kebiasaan ‘berteriak’ dengan bahasa visual, melalui coretan, tulisan, hiasan lampu, keanekaan pagar, keanekaan bentuk rumah dan sebagainya merupakan fenomena baru mereka yang berlebihan dalam keberjasilan ekonomi. Akibatnya tumbuhlah berbagai jenis bangunan yang amat tak beraturan dan beraneka dan juga yang disertai oleh tiadanya penegakan peraturan izin bangunan. Demikian pula, tumbuhnya mal-mal dan supermarket yang besar tanpa memikirkan besaran jalan dan jumlah kendaraan, sehingga di samping kemacetan, juga tumbuhnya kecemburuan sosial sebagain masyarakat.
Terdapat tardisi baru para superkaya di Indonesia untuk memiliki kendaraan mewah lebih dari tiga buah dengan rumah mewah di berbagai kota. Meskipun masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Namun di tengah masyarakat yang berada dalam kondisi amat memprihatinkan, hal itu merupakan pemicu tumbuhnya rasa kebencian yang mendalam, terutama jika dilakukan oleh para pejabat negara atau anggota dean perwakilan rakyat yang seharusnya menjadi teladan.
6.      Masyarakat miskin yang tak terkendali
Akibat lemahnya sector hukum. Tiadanya dinas sosial dan lembaga pengawasan kota yang efektif, memunculkan kebiasaan tak tertib pedagang kakilima, asongan, pengemis, pengamen, penyebarang, peminta sumbangan, hingga preman. Kota seolah menjadi satu wilayah tak bertuan, penguasaannya tergantung kepada uang dan kekuasaan. Kondisi itulah yang membangun masyarakat ‘tersisih’ semakin membesar, tidak saja mereka yang berekonomi lemah, para penganggur, tetapi juga mereka yang berekonomi kuat dan berkeinginan untuk menertibkan diri.
Masyarakat tersisih ini menjadi kekuatan besar ketika bersatu dan berupaya melawan petugas hukum yang berusaha menertibkan keadaan. Perlindungan oleh preman, pimpinan masyarakat, lembaga swadaya dan organisasi politik menjadikan kelompok masyarakat yang tersisih memiliki perlindungan terhadap situasi tersebut.
7.      Mentalitas ugal-ugalan
Kegetiran menghadapi hidup yang tak menentu di berbagai kota di Indonesia, menyebabkan masyarakat mudah menderita depresi dan frustasi sosial. Perilaku pengemudi, bis, truk gandengan, angkutan kota dan angkutan tak bermesin yang menjadi raja jalanan. Bahkan banyak pula remaja yang bermotor, pengemudi becak, pejalan kaki, mengemdarai mobil mewah dan juga kendaraan tentara menjadi ‘hero’ di tengah jalan.

8.      Pekerjaan tumpang tindih
Kebiasaan pemerintah daerah untuk menunda perbaikan jalan, gorong-gorong, saluran air, tumpang tindih pekerjaan PU, perbaikan lampu lalu lintas dan juga keurangnya pemeliharaan pohon telah menjadi suatu hal yang lumrah. Dalam perencanaan yang lebih konseptual, pekerjaan yang tumpang tindih itu termasuk juga wewenang setiap instansi dan jadwal pekerjaan. Fenomena ini telah menjadi wacana pembangunan hamper di seluruh kota di Indonesia termasuk kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan desain dan perencanaan pembangunan. Kondisi tersebut mempengaruhi pula perilaku sosial dalam menjalankan pelaksanaan desain di lapangan, serta kualitas pekerjaan yang dihasilkan.
9.      Warga merasa tak memiliki
Perilaku warga yang merasa tak memiliki kota, dengan jalan mebuang sampah sembarangan, merusak fasilitas umum ataupun peduli terhadap kerusakan kota. Kondisi tersebut terjadi karena banyak warga kota luar daerah dan juga tidak konsistennya penegakan ketertiban di berbagai tempat oleh aparat pemda sendiri, sehingga menumbuhkan apatisme sosial dan ketakpedulian sosial. Hal itu memicu setiap warga menjadi amat sensitive dan amat reaktif terhadap pergesekan sosial.
           
C.      Pola Perilaku Mayarakat yang Mempengaruhi Status Kesehatan
Pola perilaku yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat diantaranya adalah :
a.       Tradisi terhadap Perilaku kesehatan
Banyak tradisi yang mempengaruhi perilaku kesehatan dan status kesehatan di masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan.
Contoh :
Tradisi merokok bagi orang laki2 maka kebanyakan laki2 lebih banyak yang menderita penyakit paru dibanding wanita.
b.      Kebiasaan yang merugikan status kesehatan
Banyak sekali kebiasaan masyarakat yang merugikan baik untuk dirinya sendiri mau pun lingkungan.
Contoh :
Kebiasaan buang sampah sembarangan sehingga sampah yang bertebaran dimana-mana membangun citra kota menjadi kumuh serta berkesan tak terawatt.

c.       Pengaruh sikap fatalistis terhadap perilaku/status kesehatan
Sikap fatalistis arti sikap tentang kejadian kematian dari masyarakat. Hal ini adalah sikap fatalisme yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan,
Contoh :
Beberapa anggota masyarakat pedesaan maupun perkotaan di kalangan kelompok yang beragama Islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan,dan sakit atau mati itu adalah takdir,sehingga masyarakat kurang berusaha untuk mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau menyelamatkan seseorang dari kematian. Dan juga sangat sulit menyadarkan masyarakat untuk melakukan pengobatan disaat sakit.

d.      Pengaruh sikap ethnocentris terhadap perilaku kesehatan
Sikap ethnocentris yaitu sikap yang memandang bahwa budaya kelompok adalah yang paling baik, jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain.
Contoh :
§  Orang-orang kota merasa bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya dari masyarakat yang sedang desa.  
§  Orang kota menganggap dirinya yang paling tahu tentang kesehatan, sehingga merasa dirinya berperilaku bersih dan sehat sedangkan masyarakat desa tidak.

e.       Perasaan bangga pada statusnya
Sikap perasaan bangga atas perilakunya walaupun perilakunya tidak sesuai dengan konsep kesehatan. hal tersebut berkaitan dengan sikap ethnosentrisme.

Contoh :
§  Orang kota bangga kalau dapat makan dengan beras yang putih, makan lauk penuh dengan lemak seakan-akan sebagai lambang kemakmuran.
§  Orang akan bangga apabila makan Burger dibanding makan ikan kutuk/ lele.

f.       Pengaruh Norma terhadap perilaku kesehatan
Norma dalam masyarakat pedesaan maupun perkotaan yang sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dibidang kesehatan, karena norma yang mereka miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku yang baik. 
Contoh ;
Adanya norma bahwa laki2 tidak boleh bersalaman dengan Perempuan yang bukan mukrimnya, sehingga seorang wanita apabila periksa bagian tubuhnya harus dilakukan oleh dokter wanita, sampai pada pemberian alat KB IUD, suntik harus dilakukan oleh dokter wanita, bahkan untuk periksa wanita hamil harus oleh dokter wanita.

g.      Pengaruh unsur budaya yang diajarkan pada tingkat awal dari proses sosialisasi dalam menciptakan perilaku kesehatan.
Pada tingkat awal proses sosialisasi,sebaiknya seorang anak mulai diajarkan karena nantinya akan menjadi nilai/ norma masyarakat.
Contoh :
Anak harus mulai diajari sikat gigi , buang air besar di kakus, membuang sampah ditempat sampah, cara makan/ berpakaian yang baik  sejak awal, dan kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah.

h.      Pengaruh konsekuensi dari inovasi kesahatan terhadap perilaku kesehatan
Tidak ada kehidupan sosial masyarakat tanpa perubahan, dan sesuatu perubahan selalu dinamis artinya  setiap perubahan akan diikuti perubahan kedua, ketiga dan seterusnya. apabila seorang pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat,maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan,menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh terhadap perubahan,dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebutapabila ia tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia tahu tentang proses perubahan kebudayaan,maka ia harus dapat mengantisipasi reaksi yang muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan yang  telah direncanakan.
Artinya seorang petugas kesehatan kalau mau melakukan perubahan perilaku kesehatan harus mampu menjadi contoh dalam perilakukanya sehari-hari. Ada anggapan bahwa petugas kesehatan merupakan contoh rujukan perilaku hidup bersih sehat, bahkan diyakini  bahwa perilaku kesehatan yang baik adalah kepunyaan/ hanya petugas kesehatan yang benar.

      D.  Potensi Organisasi Pemerintah, Swasta dan Kemasyarakatan (LSM) dalam Upaya Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Masalah kesehatan pada umumnya disebabkan rendahnya status social ekonomi yang akibatkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan memelihara diri sendiri (self care) sehinggaapabila berlangsung terus akan berdampak pada status kesehatan keluarga dan masyarakat jugaproduktivitasnya.
Pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan telah diakui oleh semuapihak. Hasil pengamatan, pengalaman lapangan sampai peningkatan cakupan program yang dikaji secara sistematik, semuanya membuktikan bahwa peran serta masyarakat amat menentukanterhadap keberhasilan, kemandirian dan keseimbangan pembangunan kesehatan.
Besar dan beragamnya peran serta masyarakat dapat dilihat pada beberapa fakta berikut. Darikajian kunjungan lapangan di berbagai daerah, terungkapnya bahwa peran serta masyarakat diwujudkan dalam bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang jenisnyasangat banyak diantaranya:
§  POSYANDU (Pos pelayanan terpadu)
§  DANA SEHAT
§  Pos UKK(pos upaya kesehatan kerja)
§  SBH (Satuan karya bakti Husada)
§  POLINDES (Pondok Bersalin Desa)
§  POSKESTREN (pos kesehatan pesantren)
§  LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

Penggunaan potensi yang ada di lingkungan masyarakat salah satunya adalah;
§  KADER DESA
Kader Desa adalah Tenaga sukarela yang terdidik dan terlatih dalam bidang tertentu, yangtumbuh ditengah - tengah masyarakat dan merasa berkewajiban untuk melaksanakan, meningkatkan, dan membina kesejahteraan masyarakat dengan rasa iklas tanpa pamrih dan didasari panggilan untuk melaksanakan tugas - tugas kemanusiaan. Bertitik tolak dari pengertian ini, maka kader desa adalah wakil dari masyarakat yang akanmerumuskan segala hal yang menjadi kebutuhan dari masyarakat dan melakukan usaha – usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kader desa akan menjadi “agent of change” yang akan menggali segi - segi positif yang ada pada norma - norma tradisional masyarakat mereka.












BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
                       Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang kehidupannya banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaman seperti dari dampak globalisasi. Secara umum, masyarakat perkotaan sosialisasinya sudah berkurang dan kepribadiannya beragam. Kurangnya rasa sosialisasi karena masyarakat perkotaan sudah sibuk dengan kepentingannya masing-masing, sedangkan dari kepribadiannya masyarakat perkotaan kebanyakan sedikit stress karena banyaknya target/pencapaian yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Pola interaksi masyarakat perkotaan lebih ke motif ekonomi, politik, pendidikan, dan terkadang hierarki dan bersifat vertikal serta individual. Pola solidaritas sosial masyarakat perkotaan terbentuk karena adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat. Walaupun begitu, tidak semua masyarakat perkotaan seperti apa yang dijelaskan di atas.
                       Masyarakat perkotaan sering disebut urban community, pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Selain itu dapat disimpulkan bahwa :
a.       Kehidupan kota adalah sangat spesifik, spesifik dalam hal cirinya maupun permasalahan yang ada didalamnya, sehingga dari kespesifikannya itu ternyata saat ini banyak menimbulkan permasalahan yang menimbulkan dampak terhadap “kota” itu sendiri sebagai wadah kegiatan, maupun terhadap “penduduk” selaku pelaku kegiatannya.
b.      Secara umum permasalahan kota yaitu permasalahan yang menyangkut fisik dan permasalahan yang menyangkut sosial/kehidupan, kedua aspek permasalahan tersebut saling berinteraksi sehingga sulit untuk menentukan aspek mana yang berfungsi sebagai “pemicu” munculnya permasalahan pada aspek lainnya.
c.       Perilaku individualis merupakan ciri utama sifat kehidupan kota, perilaku tersebut merupakan salah satu dampak permasalahan perkotaan, dengan demikian perilaku tersebut sangat sulit untuk dihilangkan (karena permasalahan kota yang memicu timbulnya perilaku tersebut akan terus ada dan berkembang). Perilaku individualis ini bisa diwujudkan dalam bentuk ungkapan fisik yang berupa ruang, bentuk, maupun tanda, namun bisa juga dalam sikap dan perilaku.

SARAN
a.       Seharusnya masyarakat perkotaan tidak berperilaku individual.
b.      Seharusnya masyarakat perkotaan bisa lebih bersosialisasi terhadap lingkungannya dengan menghilangkan perilaku induvidualisme, karena setiap manusia membutuhkan orang lain.
c.       Yang perlu diperhatikan di sini adalah perlunya pengendalian perilaku masyarakat perkotaan supaya tidak menimbulkan konflik antar individu/kelompok.
d.      Salah satu sarana pengendalian perilaku masyarakat perkotaan adalah adanya upaya pendidikan sosial (social education) bagi para anggota masyarakat kota, yang implikasinya adalah pada hubungan yang saling membutuhkan dan menghargai.
e.       Harus menjaga kebersihan kota agar tidak menghilangkan nilai estetika dan agar tidak menimbulkan bibit penyakit.











BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
§  Abdurrochman. 1985. Perkampungan Di Perkotaan Sebagai Wujud Adaptasi Social. Jakarta: Penerbit Departemen Pendidikan Dan Budaya.
§  B.N. Mahbun,SH. 2009. Kota Indonesia Masa Depan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
§  Melville, C.Branch. 1996. Perencanaan Kota Komprehensif. Yogyakarta: UGM.
§  Mustamin, Alwi. 1992. Antropologi Perkotaan. Jakarta: CV Rajawali.
§  Sachari, Agus. 2002. Sosisologi Desain. Bandung: Penerbit ITB.
Jurnal :
§  http://jurnalsehat.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment